Oh bukan, postingan kali ini bukan tulisan saya.
Tulisan ini lahir dari otak brilian seorang anak kecil yang baru saja memasuki usia yang orang-orang bilang penuh bunga, Sweet Seventeen.
(Semoga ABG yang satu ini tidak labil, alay, cucok rempong, ataupun yang suka ikut-ikutan gaya Syahrini. Maju mundur cantiiiikk...)
Seorang anak kemarin sore yang peduli sekali dengan negerinya, bahkan lebih peduli dari orang-orang hebat yang tempo hari tawuran saat sidang di forum DPR.
(Saya mohon jangan anggap saya sudah tua hanya karena saya sebutkan anak ini masih kecil, anak baru kemarin sore. Dia sendiri yang mendeskripsikan dirinya seperti itu, apa boleh buat. Sungguh, saya juga masih muda)
Tulisan ini diposting di akun Facebooknya, Atika Lamiis, tanggal 30 Oktober 2014 pukul 20.11 WIB. Sangat berkesan, setelah saya membaca tulisan ini, saya cuma pengin bilang "keren anak muda!"
*Negeri di Ujung Tanduk
Tidak, tulisan ini bukanlah
review dari novel Negeri di Uung Tanduk karya Tere Liye. Tapi ini adalah
tentang Negeriku yang kini benar-benar berada di ujung tanduk. Hanya sebuah
kekecewaan kecil dari seorang anak bangsa. Jika kalian bersedia
mendengarkannya, dengarkanlah.
Apa yang terjadi pada negeriku?
Wahai para pemimpin dan wakil
bangsaku! Ada apa dengan kalian?
Aduh, apa pula yang kalian
perebutkan? Kekuasaan? Sebuah bangku? Atau mungkin, kalian bertengkar karena
tidak kebagian permen?
Sudahlah, hentikan pertengkaran
kalian! Jujur aku tidak mengerti alasan kenapa kalian bertengkar. Aku tidak
terlalu mengerti apa yang kalian bahas, seperti yang terlihat di berbagai
siaran televisi itu. Aku tidak akan mencampuri urusan orang dewasa. Bukankah anak
kecil tidak boleh mencampuri urusan orang tua?
Tapi bisakah kalian berhenti
bertengkar? Pecah menjadi beberapa geng? Ayolah, apa pula ini? Kami saja yang
anak kecil kalau bertengkar cepat sekali berdamainya.
Aku bukan seorang anak sok
pintar yang mengerti politik dan urusan negara. Aku hanya seorang anak kemarin
sore yang terlalu bosan melihat para wakil negaranya bertengkar. Bosan sekali,
sungguh. Rasanya ingin berteriak di depan wajah kalian semua dan mengatakan
langsung kalau aku bosan melihat kalian bertengkar. Malu tau!
Karena itu dengarkanlah anak
kecil ini. Hentikanlah omong kosong dan pertengkaran kalian. Apa perlu aku
belikan permen?
Aku mengatakan ini bukan karena
aku benci dengan para wakil negeriku ini. Bukan pula ingin mencaci maki. Hanya ungkapan
kekecewaan. Kalian orang hebat, mungkin hanya sedikit kekanakan.
Sungguh karena aku cinta dengan
negeri ini aku kecewa. Takut sekali jika terus seperti ini, maka negeri kita
bagaikan telur yang berada di ujung tanduk, menunggu jatuh saja. Kemudian PECAH.